Unbelievable dan Mengapa Korban Pemerkosaan Sulit Mendapatkan Keadilan

Mini seri bertajuk “Unbelievable” tayang perdana di Netflix pada 13 September 2019. Mini seri sebanyak delapan episode ini merupakan kejadian nyata dan terinspirasi dari artikel investigasi berjudul An Unbelievable Story of Rape, yang merupakan tulisan dua orang jurnalis Amerika bernama T.Christian Miller dan Ken Armstrong yang memenangkan Pulitzer Prize di tahun 2015. Mini seri ini mengisahkan seorang perempuan bernama Marie Adler (usia 18 tahun) yang mengalami tindakan pemerkosaan pada tahun 2008 di kamar apartemennya di Lynwood, Washington oleh seorang pria yang mengenakan topeng.

Pelaku memperkosa Marie berkali-kali, memotretnya, dan mengancam akan menyebarkan foto-fotonya jika ia melapor kepada polisi. Selama ia diperkosa, Marie tidak dapat mengetahui siapa pria brengsek itu dan tidak dapat berteriak ataupun melawan karena kaki dan tangannya diikat tali sepatu. Keesokan harinya Marie  menelpon polisi dan dengan ditemani oleh ibu angkatnya, dan tentu masih dalam keadaan terguncang, ia ditanya berbagai macam pertanyaan terkait detail pemerkosaan yang terjadi padanya.

Proses menginterogasi korban pemerkosaan ternyata tidak cukup sekali. Berkali-kali dengan petugas yang berganti-ganti, Marie  yang masih terguncang ditanya pertanyaan yang sama dan diminta sekali lagi menjelaskan detail dia diperkosa. Hal yang membuat Marie semakin tertekan sehingga cerita yang ia sampaikan berubah-ubah. Hal ini terjadi menurut saya bukan karena Marie  berbohong namun kondisi mentalnya sedang sangat rapuh. Dan nahasnya tidak ada seorangpun konselor yang mendampingi dia.

Kondisi Marie diperburuk dengan ibu angkatnya yang meragukan respon Marie  pasca diperkosa. Menurut ibu angkatnya, respon Marie  tergolong datar. Ibu angkat Marie mulai membandingkan bagaimana seharusnya seorang korban pemerkosaan bersikap pasca diperkosa seperti yang dia alami dulu. Ibu angkat Marie menceritakan ini semua kepada Detektif Parker. Ditambah si ibu angkat mengisahkan bahwa Marie termasuk anak yang bermasalah dan suka mencari perhatian. 

Hal inilah yang membuat Detektif Parker dan seorang rekannya mulai menyangsikan cerita Marie . Marie  kembali dipanggil oleh polisi dan diinterogasi bak kriminal selama berjam-jam. Marie yang masih belia dan sedang mengalami trauma berat, mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sangat tidak empatik. Pada akhirnya, di bawah tekanan, ia terpaksa mengakui bahwa dirinya berbohong. Pemerkosaan itu tak pernah terjadi.

Baca:  Hope dan Upaya Mencari Pemulihan

Polisi yang semestinya mengayomi dan memberikan perlindungan justru menuntut balik Marie atas tuduhan memberikan laporan palsu. Ia pun harus ikut persidangan didampingi pengacara pro bono. Situasi yang sungguh membuat Marie tenggelam dalam kesengsaraan hidup. Ia kehilangan pekerjaan, sahabat, dan orangtua asuh. Satu demi satu orang yang dulunya dekat kini menjauhi dia dan meragukan kebenaran perkataannya. Semua orang menganggap Marie pembohong ulung yang mencari perhatian.

Tiga tahun kemudian, tahun 2011, berkat dedikasi duo detekif perempuan bernama Detektif Karen Duvall dan Detektif Grace Rasmussen berhasil mengungkap seorang lelaki pemerkosa berantai yang tak lain adalah pemerkosa Marie juga di tahun 2008. Duo detektif perempuan ini sangat berbeda dalam menangani korban pemerkosaan, mereka sangat melindungi dan memvalidasi perasaan yang dialami oleh korban-korban pemerkosaan berantai ini.

Akhirnya si pelaku yang adalah mantan anggota militer tertangkap, dan diadili. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup. Marie yang mengetahui kabar itu melalui internet mengucapkan terima kasih kepada Detektif Karen Duvall.

Selain itu apa yang dilakukan oleh Detektif Parker dan ibu angkat Marie juga kawan-kawannya adalah sebuah bentuk dari budaya victim blaming.

Victim blaming adalah sebuah istilah yang menyalahkan korban terhadap kesalahan atau bencana yang menimpa dirinya sendiri. Mereka, para korban dianggap merusak nama baik keluarga, lembaga atau perusahaan. Mereka bahkan dapat dikriminalisasi karena melaporkan tindak pelecehan seksual yang mereka alami. Budaya victim blaming ini ditandai dengan kecenderungan memihak para pelaku. Masyarakat akhirnya lebih banyak mendengarkan cerita versi pelaku.

Ketika menyalahkan korban, masyarakat terbiasa menuduh perempuan ikut bertanggung jawab atas kekerasan seksual yang terjadi pada dirinya. Misalnya karena pakaiannya, keluar malam sendirian, dan lain-lain. Mereka juga cenderung memberikan toleransi pada pelaku sehingga memungkinkan mereka untuk lepas dari hukuman.

Baca:  Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana

Di Indonesia, kebiasaan menyalahkan korban sangat dipengaruhi budaya patriarki, yaitu ideologi yang mengakui hubungan tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Dalam budaya patriarki, posisi laki-laki lebih dominan, lebih berpengaruh, sementara perempuan diposisikan sebagai bawahan. Akibatnya, laki-laki menuntut rasa hormat dan kepatuhan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini juga berlaku dalam kasus kekerasan seksual.

Menurut saya, media juga punya peran dalam membentuk budaya victim blaming dalam kasus kekerasan seksual.  Hal ini mungkin terjadi karena media cenderung menampilkan perempuan sebagai sosok yang lemah dan bukan sebagai seorang penyintas yang sedang mencari keadilan setelah diperkosa.

Tajuk berita yang disampaikan media seringkali memojokkan perempuan korban kekerasan seksual. Padahal di satu sisi media dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan memberikan suara bagi korban kekerasan seksual.

Budaya victim blaming adalah masalah yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia. Untuk melawannya, kita harus selalu mendukung penyintas, tidak hanya ketika kasus tersebut menimbulkan reaksi publik tapi setiap saat.

Serial delapan episode ini membuat saya dapat memahami alasan-alasan yang seringkali membuat korban pemerkosaan atau kekerasaan seksual enggan melaporkan kasusnya. Selain karena mereka harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama selama berjam-jam, seringkali yang terjadi adalah mereka justru dipojokkan. Film ini menjadi layak untuk ditonton agar kita memahami apa yang terjadi pada korban pemerkosaan dan mengapa kita membutuhkan hukum yang memiliki perspektif korban.

Seorang pelukis, introvert yang mencintai feminisme.

Leave a Comment

%d bloggers like this: