Hubungan antara seorang waria dengan masyarakat menjadi perhatian khusus bagi saya, terutama matriks matriksnya. Serta bagaimana waria dapat bertahan hidup ditengah masyarakat yang masih seksis, dan heteronormatif.

Di hadapan masyarakat Indonesia yang masih heternormatif, waria menjadi individu yang penuh pertanyaan akibat marjinalisasi yang terjadi padanya secara struktural. Pertanyaan seperti; Apakah waria layak diterima penuh atau tidak? Apakah waria dapat membaur dengan masyarakat pada umumnya? Sekaligus apakah waria dapat menciptakan ruang aman dan aman kepada masyarakat, mengingat stigma yang melekar erat terhadap waria.

Ada upaya khusus yang dipikirkan oleh seorang waria dalam menjalin hubungan di masyarakat. Mereka harus mulai mencari wilayah penduduk dimana ia akan diterima. Hal ini tidak mudah dan butuh proses yang melelahkan. Jika diteliti kaum urban di kota-kota Indonesia mulai menampakkan penerimaannya kepada waria secara massif, namun perlu di periksa kembali apakah penerimaan itu bersifat lengkap, total, atau ada gunjingan dibelakangnya. Hal ini menjadikan waria secara individu harus membangun kemampuan untuk dapat menilai bagaimana kelompok masyarakat

Sebagai contoh, jika waria hendak menghuni suatu pemukiman warga, dia harus mencari tahu apakah warganya memiliki toleransi terhadap keragaman gender atau tidak, ataukah ia menerima cara waria itu berpakaian atau tidak, dan apakah adanya inisiasi pada perangkat warga untuk melibatkan waria dalam kegiatannya. Begitupun sebaliknya, waria harus berdaya dan berupaya untuk mengadakan perjumpaan pada masyarakat, agar lebih dikenal, dan mengurangi prasangka.

Toleransi bukan suatu kata pasif milik sebagian kecil kelompok namun milik universal masyarakat dunia. Tentunya waria berhak andil dalam upaya menggerakkan perubahan masyarakatnya di berbagai bidang. Oleh karena itu diperlukan dialog dan perjumpaan yang memiliki nilai edukasi, kekeluargaan dari kedua belah pihak, baik dengan waria dan kelompok masyarakatnya.

Baca:  Kami Bukan Anak Durhaka, Hanya Saja Kami Ingin Bahagia

Untuk dapat bertahan hidup, seorang waria akan mengembangkan kemampuan untuk menilai bagaimana masyarakat menerima waria dalam kelompok sosial mereka. Hal ini disebut dengan physiognomy atau fisiognomi yang berarti seni menduga kepribadian, atau kemampuan mental dan sikap, diawali dari struktur dan ekspresi wajah sampai organ organ tubuh lainnya.

Secara individu sebelum waria terjun ke masyarakat, waria menggunakan menerapkan fisiognomi untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat agar dialog tidak kabur, dan tidak memperberat stigma yang sudah ada. Mengingat waria sendiri menjadi bulan bulanan stigma, dan prasangka oleh warga yang tidak memahami dirinya. Seringkali, waria menemukan kesulitan untuk dapat berinteraksi baik dengan warga sekitarnya, maka itu resiko mengingat narasi keberagaman di Indonesia masih diperjuangkan sampai sekarang.

Kemampuan waria dalam memahami masyarakatnya dapat membantunya berdialog serta mengerti ciri ciri orang yang menerima, terbuka kepadanya. Tentunya di era milenial banyak sudah masyarakat yang cukup baik berinteraksi dengan seorang waria.

Dibutuhkan pendekatan-pendekatan melalui pendidikan agar waria dapat diterima baik ke dalam kolektif masyarakat. Keterlibatan para tokoh mayarakat juga diperlukan untuk menunjukkan penerimaan atas keberagaman. Pada akhirnya, untuk menciptakan ruang aman, kolektif masyarakat diharapkan mampu memberi perhatian yang sama kepada waria secara adil dengan masyarakat heteronormatif lainnya.

Karena pengalaman hidupnya sebagai waria yang sering mendapatkan pengusiran dari keluarga, tentunya ia mengembangkan naluri untuk bersikap defensive  dan naluri offensive, untuk melindungi diri sendiri bahkan ia juga harus siap ketika menyerang jika mereka terserang bahaya.

Sikap defensivenya perlu ditanggapi dengan wajarm mengingat menjadi transgender di indonesia bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan waria beraktivitas di jalanan, hidup sendirian dan bekerja dengan tipe pekerjaan yang masih dianggap melanggar norma sosial. Naluri menyerang dan bertahan dibutuhkan mereka agar melindungi diri dari serangan fisik maupun psikis.

Baca:  Salahkah Ibu Merasa tak Bahagia?

Kemampuan untuk menilai bagaimana masyarakat dapat menerima waria dapat membantu waria memetakan banyak hal ketika berhubungan dengan masyarakat di sekitarnya. Mereka dapat berdialog dengan warga agar dapat menerima dirinya sebagaimana layaknya menerima perempuan secara sosial.

Banyak waria yang pada akhirnya membangun kemampuan untuk dapat berbicara di publik serta kemampuan menilai pendengar atau warga yang ia ajak bicara, sehingga ia dapat membantu dirinya untuk lancar dalam komunikasi dengan masyarakatnya. Melalui pengalamannya waria dapat belajar memetakan naluri defensive dan offensivenya. Begitu pula sebaliknya, ketika masyarakat menerima waria, warga akan lebih inklusif ketika bisa berdialog baik dengan waria.

Membangun dialog antara waria dan warga di sekitarnya sangatlah penting, mengingat masyarakat Indonesia memiliki keberagaman. Maka perlunya untuk membangun dan menerapkan toleransi dan kebhinekaan.

Aktif dalam kegiatan seni tulis menulis, dan performing art. Salah satu karyanya Drama Wanita Tanah Jahannam ditampilkan dalam aksi Gejayan Memanggil dan roadshow di beberapa kampus Yogya. Jessica juga salah satu personil project seni vokal grup transpuan pertama di Indonesia bernama Amuba. Kini ia magang di Cemeti Art Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *