Bukan Penis Envy, tapi Womb Envy: Perlawanan Karen Horney terhadap Pandangan Misoginis

Beberapa waktu lalu, kalangan mahasiswa di kampus saya dihebohkan dengan sebuah cerita yang berdasar pada pengalaman salah seorang mahasiswi yang mengalami pelecehan seksual secara verbal atau yang akrab disebut catcall di lingkungan kampus. Tak disangka, langkah berani mahasiswi yang menjadi korban tersebut menyulutkan keberanian pula pada korban-korban lain untuk berbicara mengenai pengalaman yang serupa.

Miris rasanya. Karena fenomena tersebut membuktikan masih banyak mahasiswa yang belum mengerti bahwa hal tersebut adalah salah satu perbuatan merendahkan perempuan terhadap tubuhnya. Terlebih lagi, perbuatan buruk tersebut terjadi di lingkungan akademisi. 

Keberanian untuk menyampaikan pengalaman menyebalkan tersebut ke dunia maya, tidak hanya sebagai bentuk coping stress tetapi juga menyampaikan pesan tersirat bahwa jangan pernah ragu untuk menyampaikan pengalaman yang (masih) dianggap tabu ini ke publik. Sebab, hal tersebut menjadi langkah konkrit untuk memperjuangkan keadilan bagi perempuan agar tetap merasa aman, nyaman, bebas, dan bahkan merdeka atas tubuh yang dimiliki. 

Hal ini yang dilakukan oleh Karen Horney, seorang psikolog asal Jerman yang tanpa ragu menyampaikan suaranya sebagai perempuan dan ilmuwan untuk perkembangan ilmu psikologi pada masanya. Secara kuantitatif, laki-laki mendominasi ilmuwan psikologi. Bahkan dalam biografi Ladd-Franklin, seorang psikolog perempuan terkemuka, dituliskan bahwa dirinya memprotes sikap Edward Titchenner yang tidak memperbolehkan adanya perempuan dalam penelitiannya. Akan tetapi, tidak mematahkan semangat tokoh-tokoh besar perempuan untuk berkontribusi menyempurnakan ilmu psikologi.

Perlu diingat, aksiologi dari ilmu psikologi adalah untuk menyejahterahkan (well being) individu. Lalu, jika dalam perjalanan ilmu psikologi ternyata masih meng-subordinasikan perempuan, apakah aksio tersebut masih relevan? Karen Horney menjawab pertanyaan ini melalui aksinya yang berani untuk mendobrak stereotype gender yang berpengaruh pada psikis sebagai upaya mencari kesejahteraan yang diharapkan.

Baca:  Perempuan, Buruh dan Perjuangan Kolektif

Karen Horney lahir dan tumbuh pada keluarga yang dirasa kurang memberikan kasih sayang dan rasa aman terhadap dirinya. Ia merasa berada dikelas kedua setelah saudara laki-lakinya yang selalu diperhatikan oleh kedua orangtuanya.

Dalam buku theories of personality karangan Schultz dan Schultz , ditulis bahwa Horney sangat menginginkan kasih sayang dan perhatiannya dari ayahnya, tetapi yang dikenangnya adalah perilaku intimidasi dari sang ayah dengan meremehkan kecerdasan dan penampilannya.

Karen Horney memilih menjadi ambisius dan pemberontak, ”jika aku tidak dapat cantik, aku memutuskan akan menjadi cerdas” (Horney dikutip dari Rubins, 1978, hlm. 14 dalam Schultz & Schultz, 2013). Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas of Freiburg tidaklah mudah karena perlakuan diskriminatif masih kental terjadi.

Horney masuk ke institusi tersebut 6 tahun setelah institusi tersebut menerima pelajar perempuan. Segala bentuk kerja keras Horney unggul di dunia medis dan sepak terjangnya menekuni dunia psikologipun berbuah hasil yaitu mengembangkan tipe-tipe kepribadian dan mengkritisi dengan jelas terhadap penyataan-penyataan Freud mengenai perempuan sehingga lahirnya psikologi feminin versinya di tahun 1922.

Horney sadar bahwa adanya ketimpangan dalam mendefinisikan peran perempuan dengan konflik psikologis. Langkah beraninya adalah dengan mengembangkan psikologi feminis yang menganalisis ketidaksetaraan dalam relasi gender dan perilaku antara dua jenis kelamin yang berbeda.

Hal ini sebagai bentuk kritik terhadap riset psikologi yang selama ini dilakukan dalam perspektif laki-laki sebagai normanya. Ia mengkritisi temuan-temuan Freud mengenai penis envy dinilai sangat tidak adil bagi perempuan. Ia percaya bahwa bukti-bukti yang tidak memadai dalam penelitian tersebut sebab istilah itu dilahirkan Freud dari hasil wawancara dengan perempuan yang bermasalah pada neurotiknya dan mengintepretasikan dari sudut pandang pria yang melihat wanita sebagai manusia kelas dua.

Baca:  Bagaimana Teolog Feminis Kristen Menghadirkan Tuhan

Horney mengkritik keras pernyataan Freud bahwa perempuan memiliki superego yang kurang berkembang dan inferior karena keyakinannya bahwa perempuan adalah laki-laki yang dikebiri.

Karen Horney membantah ide Freud mengenai penis envy dengan memberi argumen mengenai womb envy bahwa sesungguhnya prialah yang iri dengan perempuan karena perempuan memiliki kesempatan untuk mengalami proses kehamilan, melahirkan, dan menjadi ibu. Laki-laki memiliki peran yang sedemikian kecil untuk menciptakan kehidupan baru.

Sehingga untuk mengalihkan perasaan inferior itu, pria menunjukkan dengan mengingkari hak-hak perempuan, meminimalkan kesempatan perempuan untuk berkontribusi kepada masyarakat, dan merendahkan upaya mereka untuk berprestasi.

Akhirnya perjuangan Horney dikenal dan diakui oleh ilmuwan psikolog lainnya. Hal tersebut tidak lain adalah karena keberaniannya untuk mengubah cara pandang masyarakat kala itu dan perlahan menggiring perempuan di jamannya untuk berani bersuara di ruang publik seperti yang dilakukan Horney.

Melalui Karen Horney, kita diingatkan  untuk dapat mengubah cara pandang dan menjadi kritis terhadap hal-hal mengenai diri dan tubuh kita. Ruang lingkup manapun akan tetap menjadi tempat untuk mengsubordinasikan perempuan selama perempuan itu diam, sehingga keberanian untuk bersuara menyampaikan aspirasi dan kritik menjadi keharusan.

Perempuanlah yang menentukan akan dibawa kemana dirinya, akan dipandang seperti apa dirinya, dan akan dimaknai apa peran mereka di masyarakat.

Mahasiswa Psikologi asal Sidoarjo, Jawa Timur. 

Leave a Comment

%d bloggers like this: