Lewat Yoon Yi Suh, Kita Diingatkan Menjadi Perempuan Berdaya

Yoon Yi Suh adalah nama pemeran utama perempuan dalam serial drama Korea bertajuk “100 Days My Prince”. Drama bergenre sejarah dengan nuansa romantis komedi yang berlatar belakangkan historikal era jaman Joseon. Meskipun drama sejarah, alur ceritanya tidak membosankan. Bahkan banyak pesan yang seakan diselipkan di beberapa adegannya. Terutama adegan yang diperankan oleh Yoon Yi Suh yang seakan menunjukan dan mengingatkan kita bahwa perempuan itu –harus– berdaya. 

Sosok Yoon Yi Suh digambarkan sebagai putri kerajaan yang cakap, cerdas, dan ramah pada rakyat. Saat kecil ia dekat dengan Lee Yool yang merupakan putra dari seorang raja yang haus akan kekuasaan. Singkatnya, terjadi pengudetaan oleh ayah Lee Yool kepada ayah Yoon Yi Suh. Hingga keluarga Yoon Yi Suh mati dalam semalam. Namun, Yoon Yi Suh berhasil melarikan diri bersama kakak laki-lakinya. Yoon Yi Suh harus berpisah dengan kakaknya, dan bertransformasi menjadi perempuan desa biasa. 

Penggambaran sosok Yoon Yi Suh begitu menarik dan seakan mendobrak tatanan keharusan bagi perempuan. Biasanya putri raja akan lemah lembut dan tunduk dan berkutat pada berdandan, menjahit dan memasak. Namun tidak dengan Yoon Yi Suh. Ia bahkan lebih senang memegang pedang dan berlatih menggunakannya, daripada harus memegang jarum jahit. Dengan bantuan kakaknya, ia cukup mahir menggunakan pedang. 

Yoon Yi Suh kecil memang cerdas. Ia mahir membaca. Bahkan dari sinilah Lee Yool akhirnya tertarik untuk membaca buku agar Yoon Yi Suh terkesan dan berhenti menyebutnya ‘bodoh’. Kemampuan membaca di era itu tidak dimiliki semua orang. Hanya dari kalangan kerajaan dan bangsawan saja. Sehingga ketidakmampuan rakyat dalam membaca, dimanfaatkan oleh penguasa atau lintah darat untuk menipu rakyat.

Yoon Yi Suh pun sering diminta untuk membacakan surat para penduduk desa dan memberikan saran. Hal ini tidak lantas membuatnya memanfaatkan ketidakmampuan penduduk desa untuk mendapat keuntungan, justru ia melakukannya dengan cuma-cuma. 

Baca:  Komik Girls' World Cerminan Perundungan Sesama Perempuan

Kedekatannya dengan rakyat memang terbentuk sedari kecil. Ia juga diceritakan sempat menolong teman laki-lakinya yang tengah diperlakukan tidak adil dengan teman yang lain saat sedang bermain. Ia begitu berani saat melindungi temannya dan menentang perlakuan kasar temannya yang lain. Hal ini pun terbawa sampai Yoon Yi Suh dewasa. Ia kerap menolong penduduk desa dengan segala kemampuannya. Seperti saat ia membela pelayan perempuan yang dimaki penguasa setempat karena lalai dalam bekerja. 

Meskipun putri raja yang bertransformasi menjadi perempuan desa biasa, sosok Yoon Yi Suh begitu pemberani. Bahkan ia digambarkan cukup kritis terhadap kebijakan pemerintah saat itu.

Ia berani menentang perintah penguasa yang dianggapnya konyol dan merugikan rakyat. Seperti perintah yang diberlakukan kepada semua lajang untuk menikah agar hujan segera turun. Yoon Yi Suh yang menjadi lajang paling tua di desa, menentang perintah itu. Bagi Yi Suh, sungguh tidak masuk akal jika kemarau berkepanjangan terjadi karena banyak para lajang belum menikah. Apalagi pernikahan paksa akan merugikan rakyat. Akibatnya Yi Suh harus dihukum cambuk di muka umum. 

Selain itu Yi Suh diceritakan menyampaikan keberatannya kepada Gubernur Jung yang menyuruh penduduk desa mengisi sumur Tuan Park yang telah mengering dengan air dari Sungai Neoro. Tentu perintah ini sangat menindas rakyat. Apalagi keadaan saat itu sedang kemarau. Yi Suh pun akhirnya menyampaikan protesnya dan berniat membuat Gubernur Jung menyadari kesalahannya. Yi Suh dengan kecerdikannya mampu membuat Gubernur Jung berhenti mengeksploitasi tenaga rakyat. 

Tindakan Yi Suh yang berani dan kritis terhadap kebijakan pemerintah, menunjukan sosok perempuan cerdas dan pemerani. Yi Suh dengan mengandalkan kemampuannya berusaha membela rakyat yang tertindas. Sekalipun Yi Suh harus berurusan langsung dengan para penguasa. 

Baca:  Apakah “Semes7a” Sebagus Kelihatannya?

Terakhir cerita yang menarik dari Yi Suh yang merepresentasikan perempuan dengan keteguhannya adalah saat terjadi perintah agar para lajang menikah. Yi Suh justru berani menentangnya karena ia tidak ingin menikah secara paksa. Yi Suh hanya ingin menikah dengan orang yang dicintainya dan bukan secara paksaan. Meskipun Yi Suh menjadi lajang tertua di desa, itu tidak membuatnya malu dan merasa terburu-buru untuk menikah. 

Apalagi saat Yi Suh juga dipaksa menjadi selir dari Gubernur Jo agar terhindar dari hukuman cambuk. Namun, Yi Suh sama sekali tidak gentar. Ia benar-benar tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Akibatnya Yi Suh harus dihukum cambuk. 

Ketika melihat drama ini, saya dibuat terkesima dengan alur cerita dan sosok Yoon Yi Suh. Apalagi dengan segala kemampuannya, ia gunakan untuk hal-hal yang baik. Yi Suh menjadi sosok yang serba bisa. Saya merasa bahwa Yi Suh seakan ingin mengingatkan kita –para perempuan– untuk menjadi manusia yang berdaya. 

Perempuan seharusnya memiliki kendali penuh atas hidupnya. Ia bisa melakukan apapun dan menjadi apapun dengan segala kemampuannya. Yi Suh juga seakan menunjukan bahwa perempuan dapat belajar apapun, dapat melakukan apapun yang disuka, asal tidak merugikan orang lain. Kemampuan perempuan harus dapat berguna dan menjadi kebaikan untuk orang lain. 

Leave a Comment

%d bloggers like this: